The One among the Ten (Sebuah Ulasan: And then There were None by Agatha Christie)

JudulAnd Then There Were None
PenulisAgatha Cristie
GenreMystery, Crime, Detective
PenerbitHarper Collins, New York, USA
Tahun Terbit2011
Tebal244
ISBN978-0-06-232554-9
Ten Little Soldier Boys went out to Dine, one choked his little self and then there were nine.

Nine Little Soldier Boys stayed up very late; One overslept himself and then there were eight.

Eight Little Soldier Boys travelling in Devon; One said he’d stay there and then there were seven.

Seven Little Soldier Boys chopping up sticks; One chopped himself in halves and then there were six.

Six Little Soldier Boys playing with a hive; A bumblebee stung one and then there were five.

Five Little Soldier Boys going through a door; One stubbed his toe and then there were four.

Four Little Soldier Boys going out to sea; A red herring swallowed one and then there were three.

Three Little Soldier Boys walking in the zoo; A big bear hugged one and then there were two.

Two Little Soldier Boys sitting in the sun; One got frizzled up and then there was One.

One Little Soldier Boy left all alone; He went and hanged himself and then there were none. 

Vera Elizabeth Claytrone tidak pernah menyangka bahwa kedua puluh bait puisi yang ia temukan di sekitar tungku api di dalam rumah itu akan menjadi jalan cerita yang akan ia (dan kesembilan orang lainnya) alami. Sebuah irama dari sajak puisi anak-anak tentang 10 tentara kecil yang mati satu-per-satu. Sebuah tragedi mematikan menanti, membungkus cerita di sebuah pulau kecil dengan segala tanda-tanya yang ada.


Delapan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda tiba di sebuah pulau. Mereka mengunjungi pulau tersebut untuk memenuhi sebuah undangan makan malam dari seorang misterius bernama U.N. Owen. Mereka disambut oleh dua orang lain yang telah menunggu mereka di dermaga untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah mewah di tengah-tengah pulau. Seperti tidak ada firasat akan semua hal yang mungkin terjadi; mereka menikmati setiap jengkal pemandangan, suara deburan ombak, terpaan angin pantai, serta cerah dan teriknya matahari dengan santainya.

Pada kebersamaan makan malam pertama, mereka dikejutkan dengan sebuah suara dari speaker dalam ruangan yang mengatakan bahwa ke-sepuluh orang yang saat ini sedang tertawa lebar adalah mereka yang memiliki jejak kriminal di masa lalu; dan mau tidak mau harus mempertanggungjawabkan semuanya. Mereka mendapatkan sebuah tuduhan akan kejahatan yang menyebabkan beberapa nyawa dari orang-orang tak bersalah melayang.

Rasa panik menyerang. Melihat situasi yang mungkin akan membahayakan ini; kesepuluh orang tersebut kemudian berdiskusi melalui tensi perdebatan yang cukup tinggi. Setelah saling lempar pertanyaan mengenai segala kemungkinan, mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pulau tersebut pada keesokan paginya. Hanya saja, tanpa disadari, Anthony James Marston – salah-satu di antara mereka – tewas di kursi tempat ia duduk sebelumnya. Kejadian ini sontak menimbulkan kecurigaan tentang kemungkinan lain bahwa mereka telah dijebak dan seseorang sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari tempat yang tak seorang pun tahu.

Berbagai peristiwa aneh plus mengerikan pun terjadi berulang-ulang. Satu per satu dari mereka terbunuh dalam rentan waktu yang berdekatan. Saling tuduh dan saling curiga menjadi makanan hati dari dan untuk setiap orang yang tersisa. Keyakinan mereka bahwa ada seseorang (di luar sepuluh tamu undangan di awal) yang sedang mengawasi mereka dan mengatur semua drama yang ada lambat-laun pudar. Hal ini disebabkan dari tidak pernah ditemukannya bukti kuat bahwa ada orang lain di pulau itu. Bahkan, kematian yang dialami oleh setiap korban sebelumnya persis sama dengan skenario dalam dua puluh bait puisi yang tertempel di dinding setiap ruangan.

Setiap satu di antara mereka mati; satu di antara sepuluh patung kecil di atas meja makan menghilang.

Vera Claythorne – orang terakhir yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya menaruh kecurigaan besar pada Philip Lombard karena hanya orang itulah yang dari awal membawa sebuah senjata api. Namun, sesuai dua bait terakhir dari puisi anak-anak yang ia baca di awal kedatangannya; seharusnya ia juga mati. Maka hal tersebut menjadi kenyataan, Vera Claythorne mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di dalam sebuah kamar tidur; patung kecil terakhir kemudian jatuh; ia mati.


Ada yang mati dalam terkaman ombak laut, derasnya hujan beserta petirnya, sengatan dari gerombolan lebah, teror dari sebuah kapak pembunuh, minuman dengan racun mematikan, dentuman dari jam gadang besar, hingga sebuah kegagalan untuk kembali setelah semalaman bermimpi. Dalam alur ceritanya, misteri tentang siapa U.N. Owen tidak juga terpecahkan hingga kematian Vera sebagai orang terakhir dalam pulau itu. Bahkan setelah masuk sebuah persidangan, misteri tentang siapa pelaku di balik pembunuhan berantai ini hanya menghasilkan dugaan dengan banyaknya teori yang tidak juga memuaskan. Hingga belasan tahun setelahnya, sebuah botol dengan selembar kertas di dalamnya berlabuh di sebuah bibir pantai. Sebuah botol, selembar kertas, sebuah jawaban.

Siapakah dalang dari tragedi ini? Benarkah U.N. Owen, sang pengundang makan malam, adalah penulis skenario? Atau salah-satu di antara ke-sepuluh orang itu menyembunyikan sesuatu? Temukan semua jawabannya dalam novel berjudul And then There were None karya Agatha Christie ini. Temukan buku nya di toko buku favorit kamu atau pesan melalui aplikasi online shop andalan. Jika tertarik, kamu bisa membaca versi e-book orisinalnya dengan membeli langsung di Google Play Book; klik di sini untuk melihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas
error: Haloparagraf is Protected!