Di Antara Dua Tembok Kusam

Gambar oleh Vladislav Likhomanov dari Pexels

Bayangan itu masih tidak bisa aku tangkap. Ia melesat bagai sepenggal cahaya matahari tanpa warna yang sepertinya ingin menusuk jiwa. Aku masih tertegun, berdiri tanpa gerak. Tak ada aroma yang tercium, tak ada wujud yang bisa aku lihat. Bola mata enggan berdiam menatap ke hadapan, selalu ada yang menariknya ke kanan dan ke kiri seperti ingin diperhatikan. Mulut tak bisa aku tutup, ada sesuatu yang membuat dua bibir terpisah dengan getar. Begitu dengan kaki yang tiba-tiba kaku untuk aku langkahkan; begitu denga tangan yang tiba-tiba membeku dan tak bisa aku lambaikan.

Jika berada di antara dua tembok kusam di sebuah lorong tanpa suara, menurutmu siapa yang sedang berada di sana untuk sekadar bermain petak umpet? Jika tak seorang pun bangun saat fajar masih duduk di atas pagi, menurutmu siapa yang sedang memperhatikanmu dari arah yang tidak pernah kamu ketahui? Hantu? Jin? Bagaimana jika ia ternyata adalah Izrail?

Hal yang terasa sangat mustahil. Berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa saat kamu sedang dalam keadaan tidak siap tentu adalah mimpi buruk yang tidak pernah kamu inginkan. Akan tetapi, bagaimana jika suatu saat itu benar-benar terjadi? Percayalah, jika memang sudah waktunya, kamu tidak akan pernah bisa menolak kehadirannya. Dini hari ini, saat sepi menyelimuti lorong yang sedang aku lalui, ia datang; aku mati.


Hai, ini masih dengan aku. Percaya atau tidak, kematian memang se-menyakitkan itu. Sesuatu yang membuatku sangat menyesal bukan perkara sakit yang konon katanya seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup, tetapi kenyataan bahwa memasuki lembah neraka yang penuh dengan kepedihan ternyata sama mudahnya dengan kebiasaan meninggalkan salat lima waktu. Dulu, aku sering menyangkal pendapat lawan bicara dengan menyatakan bahwa 10 itu tidak harus 5 + 5.

“Hari ini aku sepertinya akan beruntung. Aku hanya perlu menjauhi orang-orang yang tidak suka terhadap opiniku. Hubungan asmara mungkin akan sedikit rumit, tetapi keuangan sepertinya akan berada pada fase stabil. Aku hanya perlu percaya diri, melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Ya, bintangku berkata demikian.”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku adalah budak dari kepercayaan terhadap hal-hal seperti ini. Aku cenderung melihat masa depan berdasarkan apa yang zodiak katakan. Ramalan tentang kondisi keuangan, hubungan asmara, serta kepribadian diri selalu menjadi kasta tertinggi dalam merencanakan kegiatan harian. Tak hanya itu, aku percaya bahwa secarik kertas yang telah didoakan dan disembur air dari mulut dukun kepercayaan bisa membuat rumah aman dan tentram. Bahkan, aku juga menyimpan jimat pemberian nenek moyang di dompet agar terhindar dari malapetaka.

Sayangnya, aku benar-benar tak sadar kalau sudah menempatkan kepercayaan itu melebihi takdir Tuhan.


“Halo semuanya, hari ini aku sedang berada di panti asuhan untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu. Meski jumlahnya tidak seberapa, tetapi semoga uang dalam amplop ini dapat membantu mereka, ya! Aamiinn! Jangan lupa like, comment, and share!”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku suka sekali dipuji. Kalau lah tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan, masih ada ibadah yang bisa dipamerkan. Ya, sekadar memotret kegiatan berbagi misalnya, aku bisa merasa menjadi orang yang paling dermawan. Apalagi setelah mengunggahnya ke media sosial, pujian dari teman-teman sejawat langsung membuatku merasa menjadi orang yang paling mulia. Apa aku mengharapkan untuk mendapatkan pahala? Tentu iya! Namun yang pasti, pujian adalah harapan pertamaku. Kadang kala, aku sengaja mengajak teman-teman untuk pergi salat saat sedang ramai-ramainya. Bukan agar banyak yang ikut, tapi semoga banyak yang mengetahui bahwa aku itu adalah orang yang agamais.

Sayangnya, aku benar-benar tak sadar bahwa tidak ada kebaikan yang aku peroleh dari setiap perbuatan yang dipamerkan dengan hanya mengharap sebuah pujian. Semuanya ternyata menjadi sia-sia.


“Ah, tidak apalah ya meski mereka tahu. Toh, aku pun tidak sengaja melakukannya. Andai mereka tahu apa yang sudah aku perbuat, mungkin bisa jadi pelajaran untuk mereka. Apalagi di kota metropolitan seperti ini, hal seperti itu, kan, sudah dianggap biasa. Jadi mungkin beberapa orang akan kagum seandainya tahu kalau aku sudah berani berbuat seperti ini.”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku pernah secara tak sengaja jatuh dalam perbuatan tercela. Ya, awalnya aku menganggapnya demikian karena memang sangat bertentangan dengan norma yang ada di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, awalnya, aku merasa sangat malu dan takut jika nantinya ada yang mengetahui perihal ini. Namun ternyata, aku melihat banyak sekali teman-teman yang melakukan hal serupa tetapi malah mempertontonkannya di wajah publik. Mereka, ternyata, menganggap perbuatan tersebut sebagai hal yang biasa saja. Alhasil aku pun mengikutinya, yang awalnya aku anggap aib, ternyata adalah hal keren di mata mereka. Akhirnya, aku pun tidak merasa ragu lagi untuk berbuat hal-hal buruk lain dan mengumbarnya ke khalayak umum.

Sayangnya, aku benar-benar lupa bahwa Tuhan telah menjagaku dengan menutup aib-aib yang aku miliki. Akan tetapi, karena haus pengakuan dan sudah terbiasa dengan lingkungan, aku melupakan itu semua.


“Yang penting tidak ada yang sadar kalau pelakunya adalah aku. Memang lebih baik aku berbohong kepada siapa saja daripada harus bertanggungjawab atas perbuatan ini. Iya sih, jujur memang nomor satu, tapi lebih baik ingkar saja daripada harus menanggung malu. Intinya, aku tidak boleh berkata jujur agar selamat dari amarah publik.”

Dulu, semasa hidup di dunia, bahkan saat menerima kenyataan bahwa aku sepenuhnya salah, silat lidah selalu menjadi andalan untuk membenarkan diri. Ya, meski selalu diselingi dengan kebohongan, tetapi aku akan merasa tenang karena bisa menang. Bagiku, menang saat berdebat dengan orang lain itu nomor satu. Meski harus diwarnai dengan sedikit-banyak kebohongan, tetapi bagiku rasa bangga adalah kuncinya. Tak peduli meski harus membenarkan apa yang salah atau menyalahkan apa yang benar, bagiku, menjadi orang yang paling pintar tanpa tandingan adalah kuncinya. Citra di depan manusia adalah segalanya.

Sayangnya, aku benar-benar lupa bahwa satu kebohongan itu melahirkan kebohongan yang lain. Aku tidak sadar telah memiliki dosa sebesar bukit dari tumpukan dosa-dosa kecil layaknya pasir di lautan.


“Pokoknya jangan pernah berteman dengan orang itu. Percaya kepadaku, dia itu akan menjadi perusak hubungan kamu dengan pacar yang kamu elu-elukan sekarang. Apalah arti satu orang teman jika harus putus dengan orang yang kamu sayangi. Kalau perlu, buat dia merasa tidak nyaman saat ada di kelas. Ganggu, kek! Fitnah, gitu!”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku sering menyeru orang lain untuk berbuat keburukan. Siapa yang tidak pusing kalau teman karibnya sendiri selalu merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang lain. Selama masih bisa memberikan masukan yang bisa membuatnya menang, akan aku berikan sepenuhnya. Meski pada akhirnya akan ada korban, tapi apalah arti semua itu. Toh itu salahnya sendiri dan itu pun temanku lakukan demi kebaikannya. Apalagi, aku mengerti betul jika pun itu dosa, maka pelakunya tentu bukanlah aku.

Sayangnya, aku benar-benar lupa kalau dosa itu selamanya juga aku dapatkan. Aku lupa kalau dosa itu akan terus menyambung dari perbuatan yang terjadinya disebabkan oleh diriku sendiri.


“Kita kan punya anggaran total 12 juta rupiah, nah, empat juta itu di proposal ditujukan untuk dua pemateri dengan masing-masing dua juta per orang. Karena kebetulan dua pemateri itu temanku, nanti gampang, lah. Aku yang akan bilang ke mereka kalau dana yang kita dapatkan dari atasan terbatas, jadinya kita hanya mampu memberikan masing-masing pemateri sebesar satu juta rupiah. Toh, mereka kan sudah menyanggupi dan kita pun tidak memberitahu berapa fee yang akan mereka terima. Nah, nanti, laporan pembayarannya biar aku tanda-tangani sendiri.”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku sempat menjadi bagian dari kepanitiaan beberapa acara kampus. Karena memiliki wewenang untuk mengatur alur masuk dan keluarnya anggaran, aku pun merasa semua uang itu ditujukan untuk terselenggaranya acara dengan baik. Meski uang yang aku gunakan tidak sesuai dengan rencana di proposal, yang terpenting, sekali lagi, acara berjalan lancar dan sukses sampai tuntas. Apalah arti sebuah acara jika panitianya kelaparan. Akhirnya, aku dan teman-teman pun sepakat untuk menyisakan beberapa nominal uang dan memanipulasi laporan pertanggungjawaban. Acara berjalan lancar, panitia pun bisa makan-makan.

Sayangnya, aku tidak menyadari bahwa apa yang aku makan dari uang terlarang itu ternyata menjadi daging yang melekat dalam tubuh hingga mati. Lebih buruknya, tempat dari daging-daging ini ternyata adalah neraka yang penuh dengan siksa.


“Masih ada esok hari, jadi biarkan lah perbuatan tercela ini aku nikmati hingga malam ini berakhir. Besok saat bangun dari tidur yang lelap, aku berjanji akan bertobat. Masih banyak waktu, kan. Jadi aman-aman saja rasanya.”

Dulu, semasa hidup di dunia, aku percaya bahwa keadaan sehat jiwa dan raga adalah jaminan bahwa beberapa detik ke depan aku masih memiliki kehidupan. Tentu, sangat masuk akal, bukan? Yang perlu aku lakukan tentu hanya yakin dan yakin bahwa selalu ada hari esok yang bisa aku gunakan untuk memperbaiki diri. Maka tidak jarang, karena mengerti akan hal ini, bertele-tele dalam melaksanakan kewajiban atau mengulur waktu untuk mengakui kesalahan dan benar-benar bertobat sudah menjadi kebiasaan. Karena sekali lagi, bukankah sangat masuk akal jika aku tidak akan mengalami apa-apa jika saat ini masih merasa aman?

Sayangnya, aku benar-benar ingkar bahwa aku bukan pemilik takdir. Aku benar-benar lupa bahwa tidak ada yang dapat membaca tulisan dalam buku takdir yang telah rampung jauh-jauh hari itu. Aku benar-benar tidak sadar bahwa kematian tidak pernah memandang siapa yang harus ia datangi; termasuk di mana tempatnya dan kapan waktunya.

Hingga pada akhirnya, mendung dini hari ini menjadi awal dari derasnya hujan yang menghantam bumi di mana kaki kupijaki. Bersamanya, satu dua petir menggelegar; yang entah sudah apa saja dan di mana posisi ia telah jatuh membakar. Aku baru saja selesai berpesta ria, pulang menuju tempat tinggal untuk mengejar waktu salat wajib yang nampaknya akan segera pergi karena sedikit waktu tersisa. Kemudian, bayangan itu akhirnya menampakkan diri. Ia melesat bagai sepenggal cahaya matahari tanpa warna. Di antara dua tembok kusam pada lorong panjang tanpa suara, aku kira tak akan ada yang berlari secepat itu di bawah guyuran hujan deras ini. Tak ada manusia yang bangun, apalagi bermain hujan saat dinginnya malam membekukan mimpi.

Pada fajar ketika waktu subuh hendak menyapa, sebuah petir datang menyambar dan membakar raga. Izrail melesat bersamanya, mengambil hidup fana itu untuk selamanya. Berpaling? Mana bisa.


Cukup.

Rasa-rasanya cerita pedih ini sudah cukup sampai di sini saja. Aku tentu menyesal; sering mempercayai ramalan ketimbang Tuhan, sering beramal baik hanya untuk mendapatkan pujian, sering membuka aib yang sebetulnya sudah tertutup rapat di belakang, sering berkata ingkar hanya demi suatu kepuasan, sering menjadi sebab dari terjadinya keburukan, sering makan dari uang haram, ditambah selalu merasa yakin bahwa besok bukan waktunya untuk didatangi kematian. Namun, mau bagaimana lagi, waktu yang katanya bisa diputar itu memang hanyalah bualan belaka. Penyesalan yang katanya selalu datang di akhir pun ternyata adalah fakta yang sebenar-benarnya.

Sekarang, aku tidak lagi berharap apa-apakecualisemoga aku dalam cerita ini bukanlah kamu yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas
error: Tindakan copy-paste tidak diizinkan!